Senin, 31 Mei 2010

Jalan Rusak Di Banten

Sebagai warga banten, kami miris melihat kondisi jalan di daerah kami. Ada banyak jalan yang belumdi aspal sepanjang jalur dari berbagai daerah banten ke ibu kota Jakarta. Padahal provinsi ini adalah provinsi yang menempel ke Jakarta dan cukup kaya juga. Bahkan banyak aktivitas ekonomi di provinsi yang masih muda ini.

Kerusakan terjadi banyak tempat. Lihat saja jalan perbatasan di merak yang sangat parah. Begitu banyak lubang di jalan yang tidak diaspal tersebut. Kondisinya seperti kubangun kerbau. Kondisi akan kian parah waktu hujan sehingga tak jarang mobil yang terperosok.

Seharusnya pihak berwajib patut memperhatikan jalan tersebut. Dinas lalu lintas dan angkutan jalan raya harus menindak truk dan bis yang melebihi batas tonase. Dinas pekerjaan umum juga jangan hany pangku tangan melihat kondisi ini. Atau lebih parah, jangan sampai melakukan pungli terhadap para pelanggar yang telah merugikan kepentingan bersama.

Sumber : seputar Indonesia

Tanggal 8 mei 2010

Halaman 7

Pemerintah kesulitan bangun PLTN

Menteri coordinator bidang perekonomian Hatta Rahajadalam jumpa pers di kantornya mengatakan,ada tiga hal penting yang harus di penuhi jika pemerintah ingin merealisasikan PLTN. Yakin kesanggupan secara keekonomian ketersediaan teknologi, dan penerimaan masyarakat. Dan membuat sulit untuk merealisasi kan PLTNadalah masyarakat kita yang belum biasa menerima .

Menurut Hatta, Indonesia sudah memilikik undang –undang yang mengakomondasi pembangunan PLTN. Secara keekonomian , Indonesia pun sudah sangat siap. Untuk teknologi Indonesia sudah dapat menerapkan pPLTN generasi keempat yang sangat aman “ tinggal sekarang bagaimana mendidik masyarakat untuk menerima itu”.

Karenaitu lanjut dia untuk merealisasikan pembangunan PLTN pemerintah akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat . selama ini persepsi masyarakat mengenai nuklir masih negative.Sejumlah LSM yang mengatas namakan jaringan antinuklir baru – baru ini mendesak pemerintah untuk membatalkan rencana pembangunan PLTN di Indonesia .

Sumber : seputar Indonesia

Tanggal 8 mei 2010

Halaman 8

Aku

Kalau sampau waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini bintang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menrjang

Luka dan bias ku bawa berlari berlari

Hingga hilang perih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Cintaku jauh di pulau

Cintaku jauh di pulau

Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan melancar

Di leher ku kalungkan ole- ole buat si pacar

Angin membantu laut terang, tapi terasa

Aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, angin mendayu

Di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertakhtas: sambil berkata

Tujukan perahu ke pangkuanku saja

Amboi jalan sudah bertahun ku tempuh

Perahu yang bersama kan merapuh

Mengapa ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku

Manisku jauh di pulau

Kalau ku mati , dia mati iseng sendiri.

Jatuh cinta

Awal pertama,

Tersirap darah gejolak pesona

Curi pandang gemuh di dada.

Mengapa? Apakah ini namanya cinta ?

Kini, wajahnya di mana – mana

Penuhi dadaku ingin berjumpa

Rindu di hati senantias

Tapi,

Hatiku kecut untuk berkata.

Apakah kau akan menerima ?

Kuberkaca,

Jelma wajahmu di sisiku

Sejoli, sangat serasi

Senyum di bibir hiasi berdua

Tapi, itu fatamorgana

Kasih…….,

Hari- hariku kulalui dengan anganku

Bunga cintaku tumbuh sendiri

Debaran cintaku menghipit di hati

Kau tak pernah tahu

Biarlah kupendam selalu.

Candu itu bernama beras

Konsumsi beras di Indonesia saat ini merupakan yang sangat besar di asia yaitu 139 kg perkapita . untuk itu, pemerintah berencana menurunkan komsumsi beras, mulai tahun ini. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono saat membuka Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010, di Jakarta, mengatakan, untuk menekan ketergantungan akan beras, agenda diversifikasi pangan menjadi sebuah keharusan. Ia menguntarakan tingginya konsumsi beras itu lambat laun akan membuat Indonesia menderita ketergantungan pangan dari luar. Tengok saja langkah impor beras yang rutin dilakukan Indonesia, sejak 1983. Di saat yang sama, Indonesia juga mengekspor beras. Pada 2000, Indonesia mengimpor 1,27 juta ton dan mengekspor 4.671 ton beras. Begitu juga yang terjadi di tahun 2001 hingga 2004. Bahkan pada 2002, Indonesia mengimpor beras hingga 1,8 ton.

Untuk itu saya ingin mengajak kita semua mendorong percepatan pengurangan konsumsi beras perkapita dan menggantinya dengan bahan pangan local serta menambah konsumsi bahan pangan lainnya. Dengan strategi ini saya yakin bahwa kita akan dapat mencapai kemandirian pangan yang berkelanjutan

Ketua umum kelompok tani dan nelayan andalan ( KTNA) menambahkan pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,75% pertahun, idealnya harus diiringi dengan peningkatan produksi sebesar1,75% pertahun . saat ini angka sementara untuk produksi hanya sebesar 0,8% pertahun, angka tersebut tidak mampu menutupi kebutuhan penduduk Indonesia .

Sumber : media Indonesia

Rabu 25 mei 2010

Halaman 14

Mahalnya biaya pendidikan

Pendidikan yang menurut UUD 1945 ( pasal 31 ayat 1 ) merupakan hak setiap warga negaratampaknya hanyalah pepesan kosong belaka. Faktanya, masih banyak warga Negara kita yang makin kesulitan untuk dapat memperjuangkan hak konstitusionalnya itu.

Dalam realitas yang terjadi, pendidikan sekarang ini seolah telah berubah menjadi sesuatu hal yang dikomersialkan al hasil, biaya pendidikan di tanah air ini pun kian melangit. Hanya mereka yang berasal dari golongan mapanlah yang dapat merasakan bangku pendidikan itu .

Sungguh, kondisi seperti itu akan menyakitkan perasaan mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi padahal, jika hal ini terus dibiarkan bukanlah tidak mungkin jika kesenjangan antara si kaya dan si miskin akan semakin terbuka lebar. Orang kaya makin kaya, dan miskin kian miskin .

Sumber : media Indonesia

Rabu 25 mei 2010

Halama 25